Pedagang Telur di Cirebon Keluhkan Harga yang tak Kunjung Turun


Media Cirebon - Harga telur ayam di pasar tradisional Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, menembus hingga harga Rp31.000 per kilogram.

Pedagang Agen Pamengkang Kabupaten Cirebon, Pendi Supendi mengatakan kenaikan telur ini merupakan yang tertinggi sepanjang ia berjualan telur ayam. Bulan lalu, salah satu kebutuhan pokok itu dijual dengan harga Rp28.000 per kilogram.

Berdasarkan pantauan di Sebuah Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN), harga telur ayam ini mulai menembus angka Rp30.000 per kilogram sejak 18 Agustus 2022 dan terus mengalami kenaikan hingga sebesar Rp31.000.

Harga telur ayam Cirebon dalam satu bulan terakhir ini terus terpantau fluktuatif di angka Rp29.000 per kilogram. Tercatat harga terendah, yakni tepat di harga Rp29.000.

hingga kini harga telur pun belum menunjukkan tanda-tanda akan turun. Para pedagang telur berharap agar harga telur ini segera kembali normal.

Berdasarkan pantauan di Pasar Harjamukti, Kota Cirebon, Senin (29/8/2022), harga telur masih di kisaran Rp 31 ribu per kilogram. ‘’Selam 2 minggu ini harga tetap segitu belum juga turun,’’ kata  seorang pedagang telur di pasar harjamukti tersebut, Ida.

Ida pun mengatakan, konsumennya yang merupakan seorang ibu rumah tangga akhirnya mengurangi pembelian telur bagi kebutuhan mereka. Seperti misalnya, yang biasa membeli dua kilogram telur akhirnya hanya membeli satu kilogram.

Namun, lanjut Ida, konsumennya yang memiliki usaha pembuatan kue juga tidak bisa mengurangi pembelian telur. Pasalnya, pengurangan telur ini akan berdampak pada kualitas dan rasa kue mereka.

‘’Semoga harga telur ini akan segera turun,’’ tutur Ida.

Hal yang sama diungkapkan pedagang telur di Jalan Perjuangan, Kota Cirebon, Meli. Dia juga berharap agar harga telur ini cepat segera turun.

‘’Sekarang saya jual telur ini seharga Rp 31 ribu per kilogram. Harga ini sudah selama dalam waktu seminggu ini,’’ terang Meli.

Meli juga mengaku ia tidak berani menyetok telur dalam jumlah banyak. Selain modal yang harus lebih banyak, pembelian dari konsumen juga sangat menurun drastis.

Meli juga menyebutkan, biasanya ia mengambil telur sebanyak 100 kilogram dari peternak dan habis terjual dalam waktu kurang dari dua atau tiga hari. Namun kini, ia hanya berani mengambil telur kurang dari 100 kilogram.