Media Cirebon - Melansir Liputan6.com Usman Effendi merupakan seorang pekerja di pertanian asal Kabupaten Cirebon ia mengaku tak pernah berhenti membuat ide dalam upaya untuk meningkatkan kualitas kebutuhan pangan.
Salah satu hal terbarunya, Usman mengawinkan berbagai bibit padi untuk menjadikan varietas padi baru. Usman sukses dan berhasil mengawinkan varietas Ciherang-Varietas Mantap dan Varietas 32-Varietas Mantap.
Usman berhasil mengembangkan hasil penemuannya itu dengan menggunakan pupuk jenis organik. Dia pun mengaku sangat senang membuat ide baru di dunia pertanian ini, di antaranya perkawinan silang benih padi satu dengan jenis padi lainnya.
Akan tetapi, pada temuannya kali ini yang lebih ia senangi adalah Varietas 32 dan Mantap dibandingkan Ciherang-Mantap alasannya adalah jenis padi ini lebih disukai tengkulak, karena hasilnya sangat bagus.
Namun, Varietas 32 memiliki beberapa kelemahan, yaitu butirannya ada corak putihnya makanya ia kawinkan dengan jenis varietas mantap.
"Kalau yang jenis Varietas Ciherang-Mantap. Ciherang itu biasanya hasilnya sangat kurang maksimal, maka dari itu saya kawinkan dengan Mantap tujuannya supaya ada kenaikan hasil," ucapnya, Rabu (17/8/2022).
Ia pun mengaku, perkawinan benih padi yang ia lakukan ini adalah perkawinan silang secara alami. Namun, Usman tidak mau mengutarakan metode perkawinan padinya.
Usman mengatakan, untuk membesarkan varietas penemuan barunya itu, ia juga menggunakan jenis pupuk organik, tidak menggunakan jenis pupuk kimia.
" Uji coba perkawinan silang ini pertama kalinya, Lalu bagaimana sih caranya? Nanti ya, karena belum dapat hak yang paten," ucapnya.
Pupuk Organik
Usman juga mengaku padi yang ditanaminya seluas 2,5 Hektare, dan berhasil hanya menggunakan jenis pupuk organik sebanyak tiga kuintal
"Kenapa ko bisa, saya mempunyai pemikiran, prihatin terhadap para petani, karena di tahun depan yang mendatang subsidi ponska ini akan dikurangi. Maka dari itu bagaimana sih cara agar hasilnya ini tetap maksimal, tapi dengan biayanya lebih irit," dia menjelaskan.
Sementara ini, Pekerja Tani di Cirebon, Dudi Setiawan pun mengatakan, uji materi telah dilakukan. Intinya bagaimana cara mensinergikan agar proses patennya ini dapat, dari perkawinan silang ini.
Kemudian dari jenis pupuknya juga harus dipatenkan. Karena untuk melakukan hal itu sangat mahal sekali.
"Tolong Pemerintah Daerah, untuk di wilayah Cirebon saja dulu bagaimana caranya agar dapat diadopsi. Ada sekitar 217 hektare lahan milik Pemerintah daerah, bisa didemplotkan dulu beberapa petak sawahnya untuk melakukan uji coba. Nanti yang lainnya pun bisa mengikuti," ucapnya.
Di tempat lokasi yang sama, Sub Koordinator Pengawas Mutu Hasil Bidang Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian wilayah Kabupaten Cirebon, Rojaya menyatakan, penemuan Usman ini sangat diharapkan dampaknya akan membawa perubahan bagi pertanian wilayah Kabupaten Cirebon.
Berdasarkan ubinan dari varietas yang dikembangkan oleh Usman, Ciherang yang dikawinkan dengan Mantap tapi dengan metode penemuannya sendiri.
Dari hasil ubinan yang telah ia lakukan, rata-rata hasil ini dari dua sampel itu, Ciherang-Mantap sebanyak 7,5 ton gabah kering pungut. Sedangkan jenis varitas Bali (32) dengan Mantab hasil rata-ratanya sejumlah 6,9 ton.
"Berdasarkan rata-rata pengakuan dari BPP Plumbon Cirebon, di kita rata-rata hasil ubinan nya adalah seberat 6 ton. Dalam konsep Pak Usman ini tentu patut dicontoh oleh petani yang lainnya khususnya para petani di wilayah BPP Plumbon," ucap Rojaya.
Imbas pengurangan pada subsidi pupuk yang dikurangi hingga mahalnya harga pestisida. Usman pun menemukan pupuk jenis organik dan pestisida nabati yang sangat berpengaruh pada bobot padi.
"Yang initinya jenis pupuk yang organik itu salah satunya dapat mampu meningkatkan hasil bobot dalam per satuan luasnya. Menarik hal ini juga dapat dikembangkan. Kebutuhan pupuk dalam satu hektare membutuhkan 7 kuintal. Kalau Pak Usman ini, 1 hektare lahan hanya cukup 3 kuintal," terangnya.
Sedangkan, sambungnya, yang dianjurkan oleh pemerintah, untuk lahan seluas 1 hektare jenis pupuk yang digunakan yaitu urea sebanyak 2,75 kuintal dan kemudian pestisidanya sebanyak 2,50 kuintal, atau sekitar 5 kuintal.
"Hal yang dilakukan Pak Usman ini bisa dijadikan contoh bagi para petani lainnya dalam penggunaan pupuk, karena di bawah rata-rata pada umunya. Yang namanya bibit ada lagi yang kewenangannya, harus bersertifikat, mungkin BPSP yang bisa menentukan bahwa varietas ini dapat dilakukan atau tidaknya. Tapi untuk konsumsi pribadi sebagai pembanding sih tentu bisa," ucapnya.