Media Cirebon - Pemerintah baru saja kemarin meresmikan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Naiknya harga Bensin Pertalite, Solar dan Pertamax tentunya menuai berbagai tanggapan dari masyarakat.
Beberapa sopir angkutan umum di Kota Cirebon ia mengaku tidak mengetahui soal tentang kenaikan bahan bakar minyak (BBM) tersebut.
Salah seorang sopir angkot di Cirebon, Sumarno mengatakan, imbas dari kenaikan BBM ini tentu sangat berdampak pada semakin terpuruknya rakyat kecil.
" Dijaman sekarang ini penumpang sangat sepi sekali karena beralih ke ojol, kami sebagai rakyat kecil tentu sangat terpuruk perekonomiannya, keluarga mau makan apa," Sebut dia.
" Waktu tahun yang kemaren saja kita susah karena virus Covid 29, sekarang malah dibikin susah lagi. Ibaratnya itu, baru aja bisa bernapas, udah disumbat lagi hidung kita. Bisa mati berdiri kalau seperti ini," ucap dia.
Sumarno sopir angkot yang telah 12 tahun menjadi sopir angkot ini juga mengakui pertalite adalah bahan bakar utama dalam transportasinya. dalam waktu sehari saja, dirinya membutuhkan sekitar 10 liter bensin pertalite untuk membawa penumpang.
sementara itu, pendapatannya sebagai sopir angkot pun terbatas berkisar Rp.60 ribu dalam sehari. apalagi profesi sopir angkot ini merupakan satu-satunya pekerjaan yang bisa dijalaninnya sejak puluhan tahun silam, tentu ini sangat mencekik dalam perekonomiannya.
"Dapat Rp100 atau 70,000 saja sulit dijaman sekarang, karena penumpang angkot sangat sepi sekali jalan paling angkut 4-5 penumpang, hitung aja berapa hasilnya," kata dia.
Untuk mengatasi sepinya penumpang, lantas pria asal Cirebon ini pun juga menjual kue keliling ke warung-warung. Mesti penghasilan yang tak banyak namun ia juga sangat bersyukur bisa menambah pendapatannya.
"Kalau kita hanya mengharapkan dari penumpang angkot saja pasti tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga, maka dari itu saya juga harus putar otak, intinya jangan sampai keluarga saya sampai tidak makan," ucapnya.