Waspada Cuaca Ekstrem, Pusat Siklon 93S Terjadi di Barat Daya Bengkulu
Perkembangan bibit siklon tropis 93S di Samudera Hindia Barat Daya Bengkulu pada Jumat (4/11/2022)

Media Cirebon - Pusat Siklon Tropis 93S yang terpantau di Samudra Hindia bagian sebelah barat Sumatera dan berpeluang tumbuh menjadi siklon tropis dalam 24 jam ke depan dengan kategori sedang. Sistem tekanan udara ini yang dapat meningkatkan pertumbuhan berupa awan hujan, kecepatan angin, dan ketinggian gelombang laut.

Guswanto, Deputi Bidang Meteorologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dalam keterangan pers, Hari Jumat (4/11/2022), mengatakan, bibit siklon ini yang memiliki kecepatan angin maksimum mencapai hingga 25 knot dan tekanan angin minimum 1001 hPa yang bergerak ke arah selatan-barat daya. Sistem ini akan menjadikan daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) yang memanjang di Samudra Hindia bagian barat Bengkulu.

”Potensi sistem yang berkembang menjadi siklon tropis hanya memakan waktu 24 jam ke depan berada pada kategori sedang,” katanya.

Kondisi tersebut, menurut Guswanto, hal ini mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan, kecepatan angin, dan ketinggian gelombang air laut di sekitar wilayah pusat siklon tropis dan di sepanjang daerah konvergensi tersebut.

Selain pusat siklon ini, menurut Guswanto, saat ini juga muncul sirkulasi siklonik di wilayah Semenanjung Malaysia dan Laut Sulawesi yang menjadikan daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) yang memanjang dari Riau, Kepulauan Riau, hingga ke Laut China Selatan dan Laut Sulawesi. Daerah konvergensi juga yang terpantau membujur dari wilayah Sulawesi Tengah hingga Sulawesi Barat, yang kemungkinan hal ini dapat meningkatkan kemampuan pertumbuhan awan hujan di sekitarnya.

Dengan kondisi yang seperti ini, BMKG telah memperkirakan sebagian besar wilayah di Indonesia akan bisa dilanda hujan deras yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang. Adapun terkait dampak tidak langsung dalam waktu 24 jam ke depan dari keberadaan pusat siklon tropis 93S lebih ke meningkatnya tinggi gelombang air laut.

Tinggi gelombang laut sekitar 1,25-2,5 meter atau dalam kategori moderat yang akan terjadi di wilayah perairan timur Kepulauan Simeulue hingga Kepulauan Mentawai, perairan Barat Lampung, Teluk Lampung bagian selatan, dan juga Selat Sunda bagian selatan. Sementara tinggi gelombang laut sekitar 2,5-4 meter yang bisa terjadi di wilayah perairan utara Sabang, perairan barat Aceh, barat Kepulauan Simeulue, hingga Kepulauan Mentawai, barat Pulau Enggano-Bengkulu, Samudra Hindia barat Sumatera, dan Samudra Hindia selatan Banten hingga Jawa Barat.

”BMKG melalui Jakarta TCWC yang akan terus melakukan pemantauan perkembangan terhadap potensi siklon tropis dan juga aktivitas dinamika atmosfer lainnya beserta potensi dampak cuaca ekstremnya,” ujarnya.

Terkait dengan adanya potensi cuaca yang ekstrem tersebut, Guswanto juga mengimbau kepada masyarakat agar untuk menghindari kegiatan pelayaran di wilayah perairan yang terdampak, menghindari daerah yang rentan mengalami bencana, seperti lembah sungai, lereng rawan longsor, pohon yang mudah rapuh, dan tepi pantai.

Banjir Sumatra Utara

Setelah banjir yang menerjang di sejumlah wilayah Aceh pada awal pekan ini, banjir juga melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara, sejak Rabu (2/11). Sedikitnya terdapat enam desa yang terdampak, yakni Desa Pantai Pantai Cermin, Desa Paya Perupuk, Desa Suka Maju, Desa Pekubuan, Desa Pekan Tanjung Pura di Kecamatan Tanjung Pura, dan Desa Sekoci di Kecamatan Besitang.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), banjir yang mencapai ketinggian hingga 150 sentimeter ini yang berdampak terhadap 1.319 keluarga hingga memaksa sedikitnya 136 keluarga di Desa Sekoci mengungsi.

Senior Forecaster BMKG Laode Nurdiyansyah mengatakan, banjir di Wilayah Aceh Timur dan Langkat (Sumatera Utara) tidak secara langsung yang disebabkan oleh pusat siklon tropis 93S yang terpantau di Samudra Hindia. ”Banjir yang melanda wilayah Sumatra Utara disebabkan oleh hujan yang mengguyur secara terus-menerus akibat terbentuknya daerah belokan atau pertemuan angin sehingga hal ini membentuk pumpunan awan hujan di wilayah tersebut,” tuturnya.