BKSDA Menurunkan Tim Nekropsi Bangkai Gajah di Aceh Timur
Tim kesehatan hewan BKSDA Aceh melakukan nekropsi terhadap jenazah gajah Lilik yang mati setelah diserang gajah liar di CRU Serbajadi Gampong Bunin, Kabupaten Aceh Timur, Senin (26/12/2022).

Media Cirebon - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh telah menerjunkan tim nekropsi untuk melakukan beda terhadap bangkai gajah sumatera jinak (Elephas maximus sumatranus) yang tewas setelah diserang sekelompok gajah liar di Camp Conservation Response Unit. (CRU) Serbajadi, di Kabupaten Aceh Timur.

"Tim ahli kesehatan hewan dari BKSDA Aceh telah tiba di lokasi untuk melakukan nekropsi. Hasilnya, tidak ditemukan benda asing kecuali memar dan bengkak di tubuh bangkai gajah tersebut," ujar Agus Arianto, Kepala Balai BKSDA Aceh, di Banda Aceh, Selasa.

Menurut hasil nekropsi yang dipimpin dokter hewan dr Rosa Rika Wahyuni, kata Agus Arianto, Lilik mengalami luka gading di leher dan sekitar telinganya. Selain itu, pembengkakan juga ditemukan di punggung bagian dalam dan perut.

"Pembengkakan di jaringan dalam perut dan punggung mendukung indikasi Lilik si gajah mati akibat diserang sekelompok gajah liar yang diperkirakan berjumlah belasan," kata Agus Arianto.

Menurut Agus Arianto, kematian Lilik merupakan kematian gajah kedua setelah Bunta yang dibunuh beberapa tahun lalu di CRU Serbajadi Aceh Timur. Meninggalnya Lilik membuat tim BKSDA Aceh merasa kehilangan.

"Lilik si gajah telah memberikan kontribusi yang sangat berharga dalam mendukung penanganan interaksi negatif antara manusia dengan gajah liar di Aceh, khususnya di wilayah Aceh Timur," kata Agus Arianto.

Sebelumnya, gajah sumatera jinak yang mati itu bernama Lilik, dan berusia kurang lebih 35 tahun. Lilik ditemukan mati pada hari Minggu (25/12) sekitar pukul 03.00 WIB.

"Penyerangan kelompok gajah liar tersebut terjadi di sekitar CRU Serbajadi. Saat kejadian, listrik padam sehingga membuat lokasi CRU gelap dan sulit bagi mahout untuk membantu gajah jinak yang diserang kelompok tersebut. gajah liar," kata Agus Arianto.

Saat penyerangan, kata Agus Arianto, para mahout atau pelatih gajah berusaha menghalau kawanan gajah liar tersebut. Namun, para pawang juga dikejar oleh kawanan gajah liar tersebut.

Berdasarkan penanganan yang telah dilakukan, kata Agus Arianto, kawanan gajah liar itu sudah beberapa pekan berada di kawasan sekitar CRU Serbajadi. Tim CRU juga berusaha memandu rombongan gajah liar itu kembali ke hutan.

Namun rombongan gajah liar tersebut terus kembali dan mendekati CRU sehingga terjadi penyerangan terhadap gajah jinak Lilik dan lainnya. Lokasi penyerangan terhadap gajah jinak Lilik sekitar 100 meter di seberang sungai, tidak jauh dari lokasi. CRU Serbajadi,” kata Agus Arianto.

Menurut The IUCN Red List of Threatened Species, gajah sumatera hanya ditemukan di pulau Sumatera dan dianggap sangat terancam punah, dengan risiko tinggi kepunahan di alam liar.

BKSDA Aceh mengimbau masyarakat untuk bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan, khususnya gajah liar sumatera, dengan tidak merusak hutan yang menjadi habitat berbagai satwa liar, serta tidak menangkap, melukai, atau membunuhnya.

Selain itu, juga dilarang untuk memelihara, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperdagangkan satwa liar yang dilindungi, baik hidup maupun mati, serta memasang perangkap atau racun yang dapat menyebabkan kematian.

Kegiatan tersebut dapat menimbulkan interaksi negatif antara gajah sumatera dengan manusia, sehingga menimbulkan kerugian ekonomi dan korban jiwa baik bagi manusia maupun kelangsungan hidup satwa liar tersebut, kata Agus Arianto.

"BKSDA Aceh merasa kehilangan dengan kematian gajah jinak Lilik yang selama ini bersama kita dan telah memberikan kontribusi berharga dalam mendukung penanganan interaksi negatif antara manusia dengan gajah liar di Provinsi Aceh, khususnya di wilayah Aceh Timur.," kata Agus Arianto. (Dedi)