![]() |
| Konten meminta bantuan di media sosial TikTok | Foto : Tiktok |
Media Cirebon - Analisis sosiolog menyatakan bahwa konten meminta bantuan di media sosial TikTok, yang juga dikenal sebagai "pengemis online", kemungkinan besar diorganisir oleh sindikat.
Hal ini diketahui berdasarkan fakta bahwa konten semacam ini juga marak di berbagai negara dan akhirnya ditindak oleh aparat keamanan karena dicurigai adanya eksploitasi anak.
Oleh karena itu, pemerintah Indonesia dianjurkan untuk bekerja sama dengan pihak platform untuk memastikan konten-konten serupa tidak disalahgunakan.
Sebuah aksi dari seorang ibu paruh baya yang duduk di tengah kolam air dan membasuh dirinya sendiri telah berlangsung selama kurang lebih empat jam. Siaran langsung ini dapat dilihat oleh 1.400 orang di TikTok.
Jika ada penonton yang memberikan hadiah virtual seperti koin, bunga atau gambar hati, ibu tersebut akan mengucapkan 'terima kasih, terima kasih banyak' sambil terus membasuh tubuhnya di depan kamera. Namun, di kolom komentar, beberapa pengguna meminta agar ibu tersebut berhenti dari siaran langsung, seperti yang dikatakan oleh @daniel, 'Sudah nek... sudah'.
Beberapa pengguna TikTok menyatakan kecurigaan mereka terhadap aksi ibu paruh baya yang duduk di tengah kolam air dan membasuh dirinya sendiri yang telah ditayangkan dalam siaran langsung oleh akun @intan_komalasari92.
Akun @Erlla meminta penonton untuk "jangan memberikan hadiah" dan beberapa pengguna mencurigai bahwa ibu yang mengenakan jilbab dan daster ini diberi perintah untuk melakukan siaran langsung tersebut.
Pemilik akun @Ani anggraenii mengatakan "Ini kayaknya ada orang yang meminta untuk melakukan live begini, kasihan enggak sih".
Akun @intan_komalasari92 sendiri memiliki 56.000 pengikut dan telah membuat 30 konten "pengemis online" sejak 31 Desember 2022.
Menurut Devie Rahmawati, seorang sosiolog dari Universitas Indonesia, konten seperti ini bukanlah hal baru, namun mulai meningkat sejak pandemi Covid-19. Hal ini disebabkan karena banyak orang yang kehilangan pekerjaan saat itu.
Hal ini disebabkan karena banyak orang yang kehilangan pekerjaan saat itu. Devie menyatakan bahwa ada beberapa alasan mengapa konten "pengemis online" dianggap menguntungkan.
Namun, berdasarkan pantauannya, Devie Rahmawati menyatakan bahwa tidak semua orang yang membuat konten meminta bantuan ini dilatarbelakangi oleh masalah keterdesakan ekonomi akibat kehilangan pekerjaan atau kebutuhan dana untuk berobat.
Ada juga yang dipicu oleh kecanduan obat-obat terlarang, sehingga memilih cara mudah untuk mendapatkan uang dengan meminta bantuan dari orang lain.
Selain itu, ada juga yang membuat konten tersebut karena kebutuhan gaya hidup yang harus dipenuhi dan memilih jalan pintas seperti itu.
Salah satu kemungkinan yang dapat menyebabkan munculnya konten seperti ini adalah adanya campur tangan dari sindikat kejahatan
Di beberapa negara telah ditemukan komplotan yang ditangkap karena mengeksploitasi anak demi mencari simpati dari orang lain
Devi mengatakan, "Ini adalah penipuan publik, dan memiliki pola yang sama. Makanya praktik yang dilakukan dalam dunia nyata sangat mengerikan, bahkan sampai melukai anggota tubuh anak untuk membuat calon target pemberi bantuan merasa iba dan akhirnya memberikan bantuan". (Shofiyyah)
