Sejarah Penyebaran Islam Di Cirebon, Dalam Naskah Sejarah Cirebon
Masjid Agung Sang Cipta Rasa | Foto : Media Cirebon 

Media Cirebon - Naskah adalah tempat tersimpanya berita hasil budaya yang diungkapkan dalam bentuk teks klasik atau peninggalan-peninggalan yang berupa tulisan. Naskah-naskah yang berada di Nusantara memiliki isi yang beragam, seperti tentang Agama, sosial, politik, ekonomi, budaya, bahasa, dan Sastra. Naskah merupakan salah satu objek dari filologi karena filologi juga dipandang sebagai gerbang ilmu untuk mempelajari khazanah masalalu. Dan para ahli filologi lebih memilih naskah sebagai penyusunan silsilah demi mendapatkan keaslian bacaan yang hipotesis, dan juga harus mengenalinya dengan sesempurna mungkin supaya bisa menempatinya dalam sejarah suatu bangsa dari teks yang sudah terungkap secara sempurna. Biasanya Naskah disimpan di Museum dan perpustakaan supaya tetap terawat dan terjaga dari hal-hal yang bisa merusak naskah tersebut.

Dari banyaknya isi naskah yang beragam kali ini kita akan membahas naskah yang berisi tentang agama, dan sejarah contoh naskah yang membahas tentang agama adalah naskah sejarah Cirebon, naskah ini merupakan naskah yang berisikan tentang sejarah Islam yang tersebar di Cirebon atau perkembangan Islam di Cirebon, jenis dari naskah ini adalah naskah babad. Dan didalam naskah tersebut juga membahas bagaimana penyebaran islam dalam naskah tersebut. Dan apa sajakah moral keislaman dalam naskah tersebut?

Dari sebuah artikel jurnal yang ditulis oleh Mukti Ali, yang isinya tersebut  membahas tentang sejarah Cirebon yang dituturkan oleh syekh Nurjati, naskah tersebut ditulis oleh Haji Mahmud Rais yang disalin pada tanggal 15 Desember 1957, dan isi naskah tersebut menjelaskan ada beberapa doktrin-doktrin Islam yang di sampaikan oleh Syekh Nurjati yang bernilai luhur dan sufistik. Dan juga memaparkan enam ajaran Islam. Berikut ini enam Ajaran Islam tersebut, yang pertama yaitu, membahas tentang aspek ketuhanan, yang kedua, membahas tentang meneladani para pewaris nabi, yang ketiga, melakukan hal yang bermanfaat dan menjauhi yang dilarang, keempat, ajaran tentang saling mengasihi, kelima, konsisten dalam kebenaran, dan yang keenam, keseimbangan antara ilmu dan kebenaran.

Dari sebuah artikel jurnal berikutnya yang berjudul “naskah sejarah Cirebon transliterasi dan analisis nilai moral”,  yang ditulis oleh Ai Hayati Mayang Arum, yang dalam artikel tersebut terdapat beberapa nilai moral yang harus diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai moral tersebut adalah, yang pertama nilai moral manusia kepada Tuhan, kedua, nilai moral manusia kepada dirinya, ketiga, nilai moral manusia kepada manusia lainnya, yang keempat, nilai moral manusia pada alam, yang kelima, nilai moral manusia kepada waktu, dan yang keenam, nilai moral manusia untuk mencapai kepuasan lahiriah dan batiniah.

Dalam penyebaran Islam di Cirebon Juga diidentikkan dengan seorang Walisongo yang yang menyebarkan Islam di Cirebon beliau adalah syekh Syarif Hidayatullah atau juga sering disebut dengan Sunan Gunung Jati. Tetapi jauh sebelum Sunan Gunung Jati menyebabkan agama Islam, ternyata sudah ada para tokoh yang sudah terlebih dahulu menyebarkan Islam di Cirebon, seperti, Pangeran Cakrabuana, beliau  adalah paman dari Sunan Gunung Jati tersebut, dan juga dijuluki dengan nama Walangsungsang. Pada waktu mencari ilmu agama, Walangsungsang dan Rarasantang menelusuri berbagai tempat seperti gunung dan berguru kepada setiap orang. Dan suatu waktu Walangsungsang dan Rarasantang pergi naik haji dan waktu di Mekah Rarasantang mendapatkan seorang suami yaitu Raja Mesir, Walangsungsang pun kembali ke Jawa, untuk terus menyebabkan agama Islam.

Setelah menikah Rarasantang hamil, dan pada hamil sembilan bulan suami Rarasantang meninggal. Dan tidak lama dari itu lahirlah anak dari Rarasantang merupakan bayi kembar, yang bernama Syekh Sarif Hidayat dan Syekh Arifin.  Sarif Hidayat Merupakan seseorang yang selalu berkelana menuntut ilmu agama hingga Menyusuri jagad raya hingga sampai Negeri Cina. Ketika di Gunung Jati, Sarif Hidayat selalu didatangi atau kedatangan dari para pengagung untuk berguru karena semuanya tertarik kepada ilmu syahadat yang dimiliki oleh Sarif Hidayat.

Para wali yang menyebarkan Islam, tidak ada henti-hentinya sehingga mereka juga menggunakan media wayang untuk menyebarkan Islam, dan menggunakan kesenian untuk menyebarkan Islam yang dilakukan oleh Sarif Hidayat. Syarif Hidayatullah atau sunan gunung jati juga membuka pondok dan mengajarkan Islam di Cirebon bersama pangeran Cakrabuana. Dan pada tahun 1479 Syarif Hidayatullah menikah dengan putri Cakrabuana yang bernama Nyai Ratu Pakungwati. Dan pada akhirnya Syarif Hidayatullah diangkat sebagai penguasa di Cirebon sebagai pengganti pangeran Cakrabuana.

Dan penyebaran Islam berlanjut dicerebon, Sehingga seiring berjalannya waktu, agama Islam di Cirebon semakin menyebar, karena hal itu dikarenakan oleh pendakwah Islam, para ulama dan didukung oleh kesultanan Cirebon, yang rajanya merupakan penganut agama Islam, Sehingga agama Islam berhasil disebarkan di Cirebon.


Penulis: Dwino Scorpio (Jurusan sastra Minangkabau, Universitas Andalas, Padang)

Editor: Nining Komalasari S.kom