![]() |
| Makam Buyut Sayu Atikah | Foto : Media Cirebon |
Media Cirebon - Pemakaman adalah sebidang tanah yang disediakan untuk kuburan. Pemakaman bisa bersifat umum atau khusus, misalnya pemakaman menurut agama, pemakaman keluarga pribadi, Makam Pahlawan, dan sebagainya.
Makam Kuno Buyut Sayu Atikah
Sebagai pemukiman kuno, Banyuwangi memiliki banyak jejak peninggalan sejarah, baik sejarah kerajaan maupun jejak sejarah penyebaran dan masuknya agama Islam ke kabupaten yang dulu bernama Blambangan ini.
Dari sekian banyak situs sejarah yang ditemukan, terdapat beberapa situs makam kuno penyebar Islam di kawasan ini, yaitu Makam Kuno Buyut Sayu Atikah dan Makam Kyai Saleh. Kota banyuwangi tak hanya dikenal sebagai daerah yang kaya dengan keindahan alam dan seni budaya untuk wisata.
Tapi juga mempunyai banyak tempat keramat yang telah menjadi tujuan masyarakat yang mempunyai suatu tradisi dan juga budaya ketika mengunjungi wisata religi, yaitu salah satunya kunjungi Makam Eyang Putri Keramat.
Makam Buyut Atikah
Makam buyut Atikah ini adalah makam tua yang letalmya di bukit Giri di kecamatan Giri Banyuwangi atau kecamatan Krajan. Biasanya Masyarakat sekitar sana akan melakukan hajat acara khitanan, menikahkan putra atau putrinya dan melaksanakan hajatan lainnya dengan selamatan di makam keramat.
Menurut Jum'ali, juru kunci makam Nenek Putri Atika Giri, banyak masyarakat dari Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya dan beberapa kabupaten/kota lainnya melakukan ritual atau tawasul di makam keramat dan tidak sedikit yang mewujudkan cita-cita dan harapannya. Untuk jemaah dari Banyuwangi, ada satu pondok pesantren yang pengurusnya rutin mengajak para santri untuk mengadakan ritual dan mengaji di makam buyut Putri Atikah.
Lalu mengutip dari beberapa sumber, salah satu makam buyut Dewi Sayu Atika atau Dewi Reni Sekardadu di Bukit Giri, Kecamatan Giri, Kabupaten Banyuwangi (karena banyak sekali makam atau peninggalannya di Pulau Jawa).
Ibu Sunan Giri, Dewi Reni Sicardado atau Sayo Attica, menikah dengan Maulana Ishak, sehingga lahirlah seorang anak laki-laki kecil yang kemudian menjadi salah satu penyebar Islam di Jawa, Sinan Giri.
Dewi Sekardadu adalah Sekar Kedaton (bunga keraton) putri kesayangan Prabu Minak Sembuyu, Raja Blambangan (Banyuwangi). Konon di daerah Blambangan waktu itu ada pageblug pagi, sore sakit, meninggal dan sore, jadi besok paginya meninggal.
Dan Sekardadu sedang menderita penyakit akut yang tidak kunjung sembuh, maka raja mengadakan sayembara, siapa yang berhasil menghilangkan pageblug dan menyembuhkan penyakit sang putri, maka dia akan mendapatkan hadiah sebagai suaminya. Akhirnya seorang ulama bernama Maulana Ishak berhasil menyembuhkan penyakit Dewi Sekardadu.
Kehadiran Maulana Ishak di kawasan Blambangan lambat laun ternyata kurang disukai Minak Sembuyu dan elite Blambangan. Maulana Ishak dituduh mempengaruhi masyarakat sekitar yang saat itu masih memeluk agama Hindu. Ketidakcocokan keduanya menyebabkan Maulana Ishak harus memilih.
Makam Buyut Sayu Atikah
Di sebuah bukit di sisi barat Kota Banyuwangi terdapat sebuah makam kuno yang baru ditemukan sekitar tahun 1920-an. Makam yang terletak di kawasan yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai 'Bukit Giri' ini merupakan Makam buyut Sayu Atikah.
Makam tersebut diyakini sebagai makam Islam tertua di Banyuwangi yang dibangun pada abad XV silam. Sejak ditemukan, hingga saat ini bangunan makam tersebut telah direhabilitasi sebanyak 3 kali yaitu pada tahun 1993, 2004 dan 2007.
Kini, areal pemakaman yang dinaungi oleh pohon kamboja berusia sembilan ratus tahun ini juga mulai ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah di Jawa Timur. Selain makam Buyut Sayu Atikah (makam utama) yang terletak di bangunan bertirai putih, juga terdapat sembilan makam lain di areal yang masuk dalam kawasan Desa Giri.
Maulana Ishak berhasil menyembuhkan putri sang Raja dari suatu penyakit. Dikisahkan Maulana Ishak datang ke Bumi Blambangan karena diutus oleh Sunan Ampel untuk mengislamkan penduduk Blambangan yang saat itu masih beragama Hindu.
Oleh Raja, Maulana Ishak diperbolehkan menyebarkan Islam tetapi hanya kepada orang-orang biasa di luar istana. Namun, Maulana Ishak kemudian dianggap melakukan pelanggaran karena juga menyebarkan ajaran Islam di kalangan pejabat istana.
Itulah sebabnya Maulana Ishak kemudian diusir dari Blambangan hingga anak kandungnya harus dibuang ke laut. Bayi yang dibawa pergi ditemukan oleh seorang nakhoda kapal bernama Abu Huroiroh yang kemudian diserahkan kepada seorang saudagar wanita bernama; Nyai Ageng Pinatih dari Gresik.
Bernama bayi; Raden Muhammad Ainul Yakin alias Raden Paku yang dibuang ke laut dikenal sebagai Sunan Giri, salah seorang 'Wali Songo' yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa ketika sudah dewasa. Konon makam Buyut Atikah sering disebut oleh para pengusaha yang ingin sukses. Mereka berdoa dan memohon kemudahan agar usaha dagang mereka bisa dilancarkan.
Demikian penjelasan dari saya tentang Makam Kuno Buyut Sayu Atikah banyuwangi yang cukup tua semoga bermanfaat, terimakasih.
